Cerpen Bunga Tidur karya Dinda Amalia

 

BUNGA TIDUR

oleh : Dinda Amalia

 


(Chat WhatsApp)

[3/12 23.45] Arga Athariz : "Eh iya yang tadi namanya juga Sheina😂 Ternyata Allah ngak ngeizinin aku buat share foto dia wkwk. Aku salah nyatet nomor😂"

[3/12 23.46] Sheina Nathania :  "Kok bisa Astaghfirullah 😂 Ngakak pol"

[3/12 23.47] Arga Athariz: "Auto hapus aja lah😂 Dah meh tidur aku"

[3/12 23.57] Sheina Nathania : "Iya tidur aja gabaik begadang"

[3/12 23.58] Arga Athariz : "Siap yang bilang juga ni, Otewe dunia mimpi😂"

 

Aku dan Arga, hingga kini semesta belum mengizinkan kita untuk bertemu. Kendati demikian kita sudah sedekat Desember ke Januari. Entah bagaimana aku bisa mengenalnya, yang pasti semua ini skenario Tuhan. Perkenalan kita bermula saat aku sedang galabah. Aku memilih apatis, tak bergelagat atas ihwal yang menimpa keluargaku. Banyak yang beralibi menjadi malaikat, tapi seperti dikutuk, aku telah salah arah karena tak memilih bungkam. Mereka justru meredupkan jiwaku. Aku dihantam dalam lorong yang gelap dan sepi, sendirian. Tapi aku kenal siapa diriku, aku tak serapuh guguran daun di musim kemarau. Aku percaya bahwa semua badai akan mencipta pelangi. Sekali lagi, aku memilih bangkit!

Dan kemudian dia datang, menjadi cahaya yang cukup terang. Dia menjadi buku harianku untuk sementara. Menjadi teman saat aku merasa tak punya teman. Aku nekat menceritakan semuanya kepada Arga. Karena aku tak kuat menahan supernova dalam kepalaku. Aku sadar aku telah menelanjangi diriku sendiri, membiarkannya tahu bahwa aku pernah melintasi awan kelabu. Seharusnya aku merasa malu, tapi entah kenapa aku mempercayainya, kata hatiku dia orang yang baik.

 

Alasan lain yang paling realistis kenapa aku bisa mengenalnya, karena kita sama sama menjadi mahasiswa baru di perguruan tinggi. Keadaan ini juga memaksaku untuk memakai topeng ganda, nestapa dan bahagia. Aku sangat senang perjuanganku masuk perguruan tinggi terbayar. Tapi di sisi lain kenapa ihwal ini meminangku, aku merasa belum dewasa. Saat itu aku sedikit kacau, akibatnya aku sering tertinggal informasi tentang mahasiswa baru. Dan lagi-lagi Arga menjadi pahlawanku. Aku kira dia orang yang menyebalkan, karena dulu dia sering memamerkan reputasinya, sombong sekali pikirku. Beruntungnya dia bisa melihatku dari sudut pandang yang berbeda. Dia bisa melihat dimensi lain dalam diriku yang kuciptakan sendiri. Sehingga tak ada alasan untuk aku menyesal bisa mengenalnya.

 

Arga selalu berekspetasi terlalu tinggi tentangku, hal ini membuatku khawatir. Aku takut dia akan berubah jika ekspektasinya tak searah dengan realita. Dia bilang bahawa dia kagum dengan rentang kisahku. Katanya, "kau ini babak belur, tapi hatimu bidadari, wajahmu juga, hahaha". Aku tak tahu apakah dia sekedar memuji atau yang lainnya. Tapi intinya dia selalu meresponku dengan baik, memanusiakan manusia. Kebetulan kita mempunyai hobi yang sama, berpetualang. Dia mengikutiku bergabung dengan organisasi pecinta alam di kampus, jadi kita akan sering bertemu nanti.

 

Liburan semester telah tiba, aku dan Arga pergi berlibur bersama. Tentu saja kita tidak hanya berdua, aku juga mengajak teman baruku, Viola. Seorang perempuan yang terlihat sangat taat agama, dia berpakaian syar'i. Kita akan pergi mendaki gunung di Jawa Timur. Lucunya, aku tidak tahu apa nama gunungnya. Karena kami berasal dari kota yang berbeda beda, kami menjadikan sebuah desa dekat gunung tersebut sebagai titik temu. Sebut saja Desa  "Merayan" karena sebenarnya aku juga tidak tahu nama desa tersebut. Ini adalah pertemuan pertama kami, dan sesuai dugaan, kami bisa langsung akrab, seperti kawan lama. Bahkan Arga dan Viola yang sebelumnya tak pernah saling mengenal juga langsung akrab. Hari pertama itu kami tidak langsung mendaki gunung, kami menginap di salah satu rumah warga, pak Dirman namanya. Dia tinggal bersama istri dan anaknya, kebetulan anaknya seumuran dengan kami, Fansa. Keluarga pak dirman sangat baik, mereka menyambut kami dengan hangat. Hal ini mengingatkanku pada keadaan keluargaku yang kurang baik.

 

 

Hentakan kaki berjalan beriringan, harmonis dan saling melengkapi. Dedaunan melambai - lambai bersahutan dengan angin yang berbisik merdu. Pemandangan ini benar benar memanjakanku, membuatku hanyut. Tetapi ada hal yang lebih mencuri perhatianku, sebuah kalimat yang terukir di papan kayu disudut desa. Kalimat itu tidak asing, sudah membenam cukup lama dalam memoriku. Kalimat itu berbunyi "jangan ambil apapun selain gambar, jangan tinggalkan sesuatu selain jejak, dan jangan bunuh apapun selain waktu". Aku sering melihatnya di gunung-gunung lain yang pernah kudatangi sebelumnya.

 

Beberapa menit kita berjalan, aku melihat tebing yang ramai dikunjungi, raut wajah mereka terlihat senang tapi hampa, seperti dua kepribadian dalam satu raga. Dan tiba-tiba aku melihat ada yang jatuh dari tebing, seorang laki laki dewasa. Aku terheran-heran, karena semua orang disana hanya diam saja, tidak ada yang mau menolong atau melakukan tindakan apapun. Mereka malah pura pura tidak tahu jika seseorang telah terjatuh. Aku sangat ingin menolongnya, tapi aku takut dengan darah dan luka, Arga dan Viola pun tak mengajakku menolongnya. Akhirnya kita tetep melanjutkan perjalanan dan acuh pada kejadian tadi.

 

Hari ketiga, kita sudah pulang dari pendakian dan kembali ke rumah pak Dirman untuk berkemas. Hari itu disana sangat ramai, aku tidak kenal siapa mereka semua. Mereka sibuk berfoto di sekitaran rumah pak Dirman, mungkin karena desa ini unik, sudah tua. Aku juga mengajak Arga dan Viola berfoto, setelah ini kita akan berpisah. Sore ini kita semua akan pulang kerumah masing masing. Aku curiga dengan Fansa, dia memberi Arga sesuatu yang dibungkus kertas berwarna coklat, seperti uang tapi kurasa bukan. Arga juga tidak melihat isinya, padahal aku sangat ingin tahu. Setelah kami semua selesai berkemas kemas, tiba tiba saja aku bertemu 3 teman yang satu program studi denganku, Daren, Freza, dan Bion. Hanya bertegur sapa kemudian mereka pergi. Viola juga sudah pergi setelah berfoto denganku tadi. Sekarang giliran Arga, dia juga akan pergi, sebelumnya dia berpamitan dengan pak dirman, aku tidak sengaja menguping pembicaraan mereka, pak dirman mengucapkan sesuatu,

"kamu lihat patokan di sudut desa nak?"

"Iya pak", Jawab Arga

"Itu bukan hanya untuk pendaki dan saat digunung, itu untuk semua pendatang dan dimanapun tempatnya, jangan dilanggar!", nasihat pak Dirman.

 

Setelah itu Arga benar benar pergi. Kini tinggal aku sendiri yang masih berada di desa "Merayan". Aku meminta tolong pada pak Dirman untuk mencarikanku tiket kereta, tetapi adanya besok jam 6 pagi. Aku terpaksa harus menginap disini lagi, tapi aku memutuskan untuk tidak tidur malam itu, aku masih kepikiran dengan pesan pak Dirman kepada Arga, dan aku juga memikirkan kenapa Fansa memberi sesuatu kepada Arga sedangkan padaku tidak. Setelah cukup lama aku berdiskusi dengan pikiranku sendiri akhirnya aku paham semua ini, berarti sebelum meninggalkan desa ini aku tidak boleh membawa/meninggalkan apapun. Aku ingat aku masih membawa gelang pemberian Fansa di awal pertemuan kami, jadi besok sebelum pulang aku harus mengembalikan gelang ini. 

 

 

Malam semakin larut, tak terasa sudah pukul 2 pagi, akhirnya niatku beradu kening dengan tubuhku, aku lelah dan butuh istirahat. Aku meminta tolong pada pak Dirman untuk membangunkanku pukul 5 pagi agar tidak ketinggalan kereta. Tapi nasib buruk, aku malah bangun jam 7 pagi. Pagi itu aku benar benar seperti kera belanda kena belacan.

Sepintas aku menjengul, memikirkan hal yang terjadi padaku. Aku jadi semakin yakin hal ini terjadi karena aku masih menyimpan gelang dari Fansa. Aku rasa dia menginginkanku tetap disini untuk menjadi temannya, karena selama disini aku tidak melihatnya punya teman. Ini aneh, kenapa Arga bisa pulang meski membawa kotak coklat itu. Dan tiba tiba hari itu Arga datang, aku senang bukan main, sekali lagi dia seperti malaikat penolongku. "Tinggalkan barang barang yang bukan milikmu, terus ayo kita pamitan!", perintah Arga. Lantas kami berdua pergi meninggalkan rumah pak Dirman.

"Kok kamu bisa pulang dan kembali lagi kesini?", Tanya ku dalam perjalanan,

"Aku sudah tahu bahwa desa itu aneh dan semua ini aneh, aku meninggalkan kotak coklat pemberian Fansa di rumahnya karana memang kita tidak boleh membawa pulang apapun, aku sengaja kesini untuk menjemput mu, tidak mungkin aku membiarkanmu terjebak dalam dimensi ini sendirian, kamu kan sahabatku.", Terang Arga sambil tersenyum.

Aku hanya melamun, mencerna seluruh kalimat yang keluar dari mulut Arga.

 

 

 

*Kring kring kring.........

"Jadi semua ini hanya mimpi, sial! terasa nyata sekali," omelanku dipagi hari.

Setelah benar-benar sadar aku memikirkan mimpi itu terus menerus. Mungkin karena semalam sebelum tidur aku chatingan dengan Arga jadi sampai terbawa mimpi. Aku langsung bercerita kepada Arga bahwa semalam aku mimpi berlibur ketempat aneh bersamanya, tetapi dia malah tertawa, dia memintaku menceritakan mimpi itu secara detail, tapi aku menolaknya karena aku merasa malu, yang jelas mimpi itu penuh pesan untuk diriku sendiri.

Aku harus lebih peka terhadap keadaan disekitarku, melihat segala sesuatu dengan mata hati, tidak  boleh berpura pura buta saat ada yang kesulitan, aku harus punya keberanian untuk membantu orang lain, bahkan jika harus melawan ketakutanku sendiri, aku juga harus lebih bijaksana dalam menyelesaikan semua masalahku. Mungkin aku juga harus memperbaiki diri karena dalam mimpi aku punya teman bernama Viola yang sangat taat agama, padahal di dunia nyata aku tidak punya teman bernama Viola. Dan yang tidak kalah penting, pesan di sudut desa itu benar, terlebih aku suka berpetualang ke banyak tempat, aku harus ingat bahwa dimanapun aku berada aku tidak boleh mengambil apapun kecuali gambar, meninggalkan apapun selain jejak, dan membunuh apapun selain waktu.


selesai...

Komentar